Sunday, October 31, 2010

How To Study

How To Study

remember single facts, but instead we interlink everything by association. Anytime we experience a new event, our brains tie the sights, smells, sounds and our own impressions together into a new relationship.
The brain is a tangled web of information. We don’t

Our brain remembers things by repetition, association, visual imagery, and all five senses. By knowing a bit about how the brain works, we can become better learners, absorbing new information faster than ever.

Here are some study tips to help get you started…


Our brains create engrained memories through repetition. The more times we hear, see, or repeat something to ourselves, the more likely we are to remember it.

Flashcards can help you learn new subjects quickly and efficiently. Flashcards allow you to study anywhere at any time. Their portable nature lends them to quick study sessions on the bus, in traffic, at lunch, or in the doctor’s office. You can always whip out your flashcards for a quick 2 to 3 minute study session.

To create effective flashcards, you need to put one point on each flashcard. Don’t load up the entire card with information. That’s just overload. Instead, you should dedicate one concept to each card.

One of the best ways to make flashcards is to put 1 question on the front and one answer on the back. This way, you can repeatedly quiz yourself into you have mastered any topic of your choice.

Commit to reading through your flash cards at least 3 times a day and you will be amazed at how quickly you pick up new information.

As Tony Robbins says, “repetition is the mother of skill”.

Create the Right Environment

Often times, where you study can be just as important as how you study. For an optimum learning environment, you’ll want to find a nice spot that is fairly peaceful. Some people can’t stand a deafening silence, but you certainly don’t want to study near constant distractions.

Find a spot that you can call your own, with plenty of room to spread out your stuff. Go there each time you study and you will find yourself adapting to a productive study schedule. When you study in the same place each time, you become more productive in that spot because you associate it with studying.

Use Acronyms to Remember Information

In your quest for knowledge, you may have once heard of an odd term called “mnemonics”. However, even if you haven’t heard of this word, you have certainly heard of its many applications. One of the most popular mnemonic examples is “Every Good Boy Does Fine”. This is an acronym used to help musicians and students to remember the notes on a treble clef stave.

An acronym is simply an abbreviation formed using the intial letters of a word. These types of memory aids can help you to learn large quantities of information in a short period of time.

Listen to music.

Research has long shown that certain types of music help you to recall information. Information learned while listening to a particular song can often be remembered simply by “playing” the songs mentally in your head.

Rewrite your notes.

This can be done by hand or on the computer. However, you should keep in mind that writing by hand can often stimulate more neural activity than when writing on the computer.

Everyone should study their notes at home but often times, simply re-reading them is too passive. Re-reading your notes can cause you to become disengaged and distracted.

To get the most out of your study time, make sure that it is active. Rewriting your notes turns a passive study time into an active and engaging learning tool. You can begin using this technique by buying two notebooks for each of your classes. Dedicate one of the notebooks for making notes during each class. Dedicate the other notebook to rewriting your notes outside of class.

Engage Your Emotions.

Emotions play a very important part in your memory. Think about it. The last time you went to a party, which people did you remember? The lady who made you laugh, the man who hurt your feelings, and the kid who went screaming through the halls are the ones you will remember. They are the ones who had an emotional impact.

Fortunately, you can use the power of emotion in your own study sessions. Enhance your memory by using your five senses. Don’t just memorize facts. Don’t just see and hear the words in your mind. Create a vivid visual picture of what you are trying to learn.

For example, if you are trying to learn the many parts of a human cell, begin physically rotating the cell in your minds eye. Imagine what each part might feel like. Begin to take the cell apart piece by piece and then reconstruct it. Paint the human cell with vivid colors. Enlarge the cell in your mind’s eye so that it is now six feet tall and putting on your own personal comedy show. This visual and emotional mind play will help deeply encode information into your memory.

Make Associations.

One of the best ways to learn new things is to relate what you want to learn with something you already know. This is known as association, and it is the mental glue that drives your brain.

Have you ever listened to a song and been flooded by memories that were connected to it? Have you ever seen an old friend that triggered memories from childhood? This is the power of association.

To maximize our mental powers, we must constantly be looking for ways to relate new information with old ideas and concepts that we are already familiar with.

You can do this with the use of mindmapping. A mind map is used to diagram words, pictures, thoughts, and ideas into a an interconnected web of information. This simple practice will help you to connect everything you learn into a global network of knowledge that can be pulled from at any moment
Kim Roach

Perbandingan Soalan Percubaan Sejarah 2010

Novel Terminal Tiga...sepintas lalu
Persoalan : Sikap prihatin akan masalah yang dihadapi oleh orang lain
Latar masyarakat : Masyarakat yang prihatin akan masalah yang dihadapi oleh orang lain
Nilai murni : Keprihatinan
Pengajaran : Kita mestilah prihatin akan masalah yang dihadapi oleh orang lain

Buktinya, Bang Maily berusaha membantu Rimpa mendapatkan bantuan kewangan untuk meneruskan pengajiannya di Akademi Seni Kebangsaan, Kuala Lumpur.

Persoalan : Keyakinan kepada diri sendiri untuk mencapai kejayaan dalam usaha
memburu cita-cita
Latar masyarakat : Masyarakat yang yakin kepada diri sendiri untuk mencapai kejayaan dalam
usaha memburu cita-cita
Nilai murni : Yakin diri
Pengajaran : Kita mestilah yakin kepada diri sendiri untuk mencapai kejayaan dalam
usaha memburu cita-cita

Buktinya, Rimpa mem¬punyai keyakinan diri untuk mencapai cita-cita walaupun terpaksa berhijrah ke Kuala Lumpur untuk melanjutkan pelajaran di Akademi Seni Kebangsaan.

Persoalan : Ketaatan kepada ajaran agama
Latar masyarakat : Masyarakat yang taat akan ajaran agama
Nilai murni : Ketaatan
Pengajaran : Kita mestilah taat akan ajaran agama

Buktinya, Rimpa mengerjakan solat subuh sebelum meninggalkan terminal setelah sampai dari Kota Kinabalu.

Persoalan : Kasih sayang kepada keluarga
Latar masyarakat : Masyarakat yang sayang akan keluarga
Nilai murni : Kasih sayang
Pengajaran : Kita mestilah sayang akan keluarga

Buktinya, Rimpa tetap sayang akan ayahnya dan berusaha mencarinya walaupun mereka sekeluarga ditinggalkan sehingga sepuluh tahun lamanya.

Persoalan : Sikap mengenang budi seseorang
Latar masyarakat : Masyarakat yang sentiasa mengenang budi orang lain
Nilai murni : Mengenang budi
Pengajaran : Kita mestilah sentiasa mengenang budi orang lain

Buktinya, Rimpa yang banyak terhutang budi kepada Bang Maily dan Kak Naspura senantiasa mengucapkan penghargaan dan sentiasa mesra sebagai cara untuk membalas budi Bang Maily sekeluarga.
Novel Seteguh Karang - Teknik Plot
Imbas kembali (Watak + teringat .....)
-Awanis teringat akan peristiwa ketika dia berusia tujuh tahun iaitu Maysarah menyuruhnya mengaku bahawa dia yang memecahkan pasu kesayangan mama sedangkan Maysarah yang
-Awanis teringat akan kecantikan Maysarah dan kecerdasannya dalam pelajaran.
-Awanis teringat akan bantuan Maysarah yang melukiskan peta Semenanjung Malaysia semasa
dia masih bersekolah.
-Awanis teringatkan waktu dia mendaftar di ITM Perlis seminggu selepas kematian ibu bapanya

Imbas muka (Watak + menggambarkan/ membayangkan .....)
-Awanis cuba menggambarkan penerimaan suami Kak Nor apabila kembali ke rumah dan
mendapati Awanis menumpang di rumahnya.
-Awanis cuba menggambarkan perawakan Encik Johari iaitu penyelianya sebelum masuk ke

Dialog (Watak 1 + berbual-bual/ bertengkar + dengan watak 2 tentang .....)
-Awanis berbual-bual dengan Budi tentang usaha Budi mencari rezeki di Malaysia.
-Awanis bertengkar dengan Encik Lee tentang sikapnya yang enggan menerima kehadiran Anita di rumahnya.

Monolog dalaman (Watak + mencemuh/ berkata-kata + dalam hatinya tentang .....)
-Awanis mencemuh di dalam hatinya tentang sikap ego Encik Johari yang memandang rendah
dan tidak memahami dirinya.
-Awanis berkata-kata sendirian di dalam hatinya tentang kematian Budi yang amat menyedihkannya.

Saspens (Pembaca tertanya-tanya sama ada .....)
-Pembaca tertanya-tanya sama ada Awanis mampu menunggang motosikal buruk yang tidak
mempunyai brek.
-Pembaca tertanya-tanya sama ada Encik Lee akan menerima semula Anita yang dianggapnya
membawa sial.
-Pembaca tertanya-tanya sama ada hubungan Awanis dengan Wan Asri akan berterusan selepas Awanis meninggalkan menamatkan latihan praktikalnya di Terengganu.
-Pembaca tertanya-tanya sama ada Maysarah akan selamat atau sebaliknya selepas dimasukkan ke hospital.
-Pembaca tertanya-tanya sama ada Budi akan selamat selepas dipatuk ular.

Kejutan (Pembaca tidak menyangka bahawa .....)
-Pembaca tidak menyangka bahawa Encik Johari sebenarnya tidak suka menerima kehadiran
pelatih perempuan.
-Pembaca tidak menyangka bahawa Budi akan dipatuk ular dan akhirnya meninggal dunia.
-Pembaca tidak menyangka bahawa Anita sanggup melarikan diri dari rumah.
-Pembaca tidak menyangka bahawa Maysarah sanggup menelan pil tidur secara berlebihan
dan terpaksa dimasukkan ke wad kecemasan di hospital.
-Pembaca tidak menyangka bahawa Awanis berani masuk ke ladang seorang diri dan bertemu
dengan buruh-buruh Indonesia.

Pemerian (Pengarang menggambarkan keadaan/ sikap .....)
-Pengarang menggambarkan keadaan tempat tinggal buruh Indonesia semasa Awanis masuk
ke ladang kelapa sawit.
-Pengarang menggambarkan sikap Kak May yang menjadi pemurung selepas kematian ibu bapanya.
-Pengarang menggambarkan kemajuan pesat daerah Kerteh semasa Awanis dan Wan Asri melalui kawasan itu ketika bersiar-siar pada hujung minggu.
-Pengarang menggambarkan kesibukan dan kepelbagaian barang jualan di Pasar Besar Kedai
Payang, Kuala Terengganu semasa Awanis dan Wan Asri bersiar-siar pada hujung minggu.
Novel Seteguh Karang - Keistimewaan Novel
1. Jalan cerita yang tidak membosankan kerana banyak menyelitkan konflik kekeluargaan
Bukti : peristiwa Anita lari dari rumah selepas Maysarah secara tidak sengaja menyatakan bahawa dia hanyalah anak angkat

2. Gambaran suasana mudah dibayangkan kerana persekitaran di Pantai Timur
Bukti : pengarang menggambarkan suasana di Teluk Cempedak, Pasar Kedai Payang dan Kerteh semasa Awanis dan Wan Asri bersiar-siar

3. Banyak memaparkan nilai murni
Bukti : Awanis sayang kepada Anita dan Kak Maysarah

4. Penggunaan gaya bahasa yang menarik dan mudah difahami
Bukti : penggunaan perkataan bahasa Inggeris dan loghat Jawa dalam novel

5. Ada teknik plot yang menarik, contohnya suspen
Bukti : pembaca tertanya-tanya apa yang akan berlaku kepada Budi selepas Budi dipatuk ular
Seteguh Karang - Ulasan Novel
Tema : Ketabahan seorang gadis menghadapi pelbagai masalah dalam hidupnya
Bukti : Awanis tabah menghadapi kematian ibu bapanya

1. Kepercayaan karut dalam masyarakat
Bukti : Encik Lee menganggap anaknya, Anita membawa sial sehingga perniagaannya mengalami kerugian

2. Sayang-menyayangi sesama manusia
Bukti : Awanis sayang akan Anita walaupun Anita bukan adik kandungnya

Latar Masyarakat
1. Masyarakat Indonesia di ladang kelapa sawit
Bukti : Bambang dan Budi ialah antara pekerja Indonesia yang tinggal dan bekerja di ladang kelapa sawit di Paka, Terengganu

2. Masyarakat yang tolong-menolong antara satu sama lain
Bukti : Kak Nor membenarkan Awanis tinggal bersama keluarganya di sepanjang tempoh dia menjalani tugas praktikal di Pejabat Pertubuhan Peladang di Terengganu
Seteguh Karang - Pengajaran
1. Kita janganlah mudah kecewa hingga kerap bersedih dan bermurung supaya tidak menjejaskan kesihatan diri
Bukti: Kak May bermurung selepas kematian abah dan mama kerana tidak mengikut kata ibu bapanya hingga akhirnya dia menghadapi tekanan perasaan

2. Kita janganlah mementingkan diri sendiri hingga menyusahkan orang lain supaya tidak dibenci atau dipinggirkan oleh orang lain
Bukti: Kak May mementingkan diri sendiri sehingga sanggup membocorkan rahsia bahawa Anita cuma anak angkat dalam keluarganya

3. Kita hendaklah pandai menyesuaikan diri dengan kehidupan yang berbeza supaya tidak disisihkan oleh masyarakat tempatan
Bukti: Awanis dapat menyesuaikan diri di tempat dia menjalani latihan praktikal di Hulu Paka

4. Kita hendaklah menaruh rasa simpati kepada insan yang malang nasibnya supaya nasib mereka dapat dibela
Bukti: Awanis bersimpati dengan nasib Budi yang terpaksa bekerja pada usia yang muda untuk menyara keluarganya di Indonesia

5. Kita hendaklah berani bertindak demi menegakkan kebenaran supaya prinsip kita dihormati
Bukti: Awanis berani mencabar pandangan Encik Johari walaupun dia seorang perempuan dan Encik Johari merupakan penyelianya
Seteguh Karang - Nilai Murni
1. Kasih sayang
Bukti : Awanis sangat sayang akan Anita walaupun bukan adik kandungnya

2. Ketabahan
Bukti : Awanis menerima hakikat kematian abah dan mama dengan hati yang tabah

3. Keberanian
Bukti : Awanis berani masuk ke ladang bersendirian kerana tidak mahu bergantung kepada Encik Johari

4. Tidak mudah berputus asa
Bukti : Awanis sanggup mengambil peperiksaan SPM untuk kali kedua setelah gagal pada kali pertama

5. Tidak mementingkan diri sendiri
Bukti : Awanis sentiasa menasihati adiknya, Anita agar tidak bergantung kepada orang lain dan belajar hidup berdikari

6. Pemurah
Bukti : Kak Nor sudi mempelawa Awanis menetap di rumahnya di Paka

7. Mengambil berat / prihatin
Bukti : Cikgu Rushda mengambil berat terhadap muridnya, Anita dengan membenarkan Anita menetap di rumahnya
Seteguh Karang - Sikap Negatif
(Watak utama)
Awanis - panas-baran
Semasa Encik Johari tidak membenarkannya mengait buah kelapa sawit, Awanis menyentap buah itu sekuat-kuat hati tanpa menghiraukan Encik Johari

(Watak sampingan)
Encik Johari - suka memperkecil-kecilkan kemampuan orang lain
Encik Johari memandang rendah kepada Awanis kerana Awanis seorang perempuan yang dianggap cerewet dan lemah

Maysarah - terlalu menyalahkan diri sendiri dan sukar menerima ketentuan takdir
Maysarah menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ibu bapanya

Sofia dan Maznah - suka menjaga tepi kain orang
Mereka gemar mengambil tahu akan hal yang berlaku antara Awanis dengan Wan Asri
Seteguh Karang - Latar Masyarakat
1. Masyarakat yang malang kerana kematian ibu bapa
Bukti: Awanis kematian ibu bapanya dalam satu kemalangan jalan raya

2. Masyarakat yang prihatin akan nasib seseorang
Bukti: Awanis prihatin akan nasib malang Bambang yang terpaksa bekerja pada usia 15 tahun

3. Masyarakat yang suka membantu orang yang berada dalam kesusahan
Bukti: Awanis yang tersesat jalan dibantu oleh Zafuan dan Halim untuk mencari Pejabat Pertubuhan Peladang Kawasan di Hulu Paka

4. Masyarakat yang mengamalkan kepercayaan kolot
Bukti: Encik Lee telah menganggap Anita membawa sial dan menyebabkan perniagaannya merosot

5. Masyarakat pejabat yang suka menjaga tepi kain orang
Bukti: Maznah dan Sofia suka mengambil tahu akan hal Awanis dan Wan Asri

6. Masyarakat yang saling menyayangi tidak kira bangsa
Bukti: Awanis menyayangi Anita walaupun tahu Anita anak angkat dalam keluarganya dan berketurunan Cina
Seteguh Karang - Perwatakan Watak Sampingan
Encik Johari
1. Tegas
Bukti : Encik Johari tegas dengan arahannya supaya Awanis membonceng motosikal bersamanya ke ladang walaupun Awanis keberatan
2. Ego
Bukti : Encik Johari memandang rendah terhadap Awanis kerana beranggapan semua perempuan lemah, leceh dan cerewet

Pak Oni
1. Prihatin
Bukti : Pak Oni prihatin akan kebajikan anak-anak saudaranya selepas kematian ibu bapa mereka
2. Periang
Bukti : Pak Oni suka bergurau terutamanya dengan Awanis

Wan Asri
1. Jujur dan ikhlas
Bukti : Wan Asri mempunyai hubungan baik dengan rakan sepejabatnya

2. Prihatin / Mengambil berat
Bukti : Wan Asri menasihati Awanis supaya berhati-hati ketika menunggang motosikal ke ladang
Seteguh Karang - Perwatakan Watak Utama
1. Tabah
Bukti: Awanis mendaftar seorang diri di ITM Perlis selepas kematian kedua-dua ibu bapanya

2. Berpendirian tegas
Bukti: Awanis tetap dengan pendiriannya untuk menjalani tugas praktikal di Terengganu walaupun dipujuk oleh Anita

3. Berani
Bukti: Awanis berani menyahut cabaran Encik Johari walaupun dia tidak pernah menunggang motosikal

4. Jujur
Bukti: Awanis tidak menaruh rasa curiga kepada buruh Indonesia

5. Panas baran
Bukti: Awanis bertengkar dengan Encik Johari apabila Encik Johari mempersoalkan kemampuan pelatih perempuan

6. Hipokrit
Bukti: Awanis berpura-pura tabah di depan Kak May dan Anita selepas kematian kedua-dua ibu bapa mereka

Rumusan Karangan SPM merupakan lubuk markah kepada Calon SPM

  • Jawab soalan ini dulu kerana inilah lubuk markah.
  • Saya cadangkan 10 patah kata untuk pendahuluan, 70 kata untuk isi tersurat, 25 patah kata untuk isi tersirat dan 15 patah kata untuk kesimpulan. Rancang perenggan anda dengan teliti.
  • Untuk pendahuluan, sila semak kata-kata sinonim untuk faktor, kepentingan, kesan dan sebagainya. Apakah makna perkataan ini? Natijah, kekangan, kemaslahatan, manfaat, gejala, strategi, . Sila cari makna yang tepat daripada kamus dewan.
  • Mulakan isi tersurat dengan (rujuk soalan, katakanlah faktor) Salah satu faktor keracunan makanan ialah (isi pertama). Selain itu, (isi ke-2), Seterusnya, (isi ketiga), Seperkara lagi, (isi ke-4), malahan (isi ke-5). Di samping itu(isi ke-6) dan juga, (isi ketujuh). Justeru bukan penanda wacana.
  • Kalau isi tersurat dah tulis 6, kira jumlah kata. Kalau baru 60, boleh tambah satu isi lagi. Kalau sudah 65 ke atas, semak semula kalau-kalau ada perkataan yang tak perlu untuk dibuang dan boleh tambah satu isi lagi. Kalau tidak, ada teruskan saja ke perenggan seterusnya iaitu menuliskan isi tersirat.
  • Mulakan isi tersirat dengan menuliskan kembali soalan untuk isi tersirat. contohnya usaha-usaha untuk mengatasi keracunan makanan. Contoh: usaha-usaha untuk mengatasi keracunan makanan ialah (isi 1) dan (isi 2). Kalau belum cukup 25 patah kata, boleh tambah isi. Selain itu, (isi 3).
  • Kesimpulan hendaklah satu ayat sahaja yang terdiri daripada 2 unsur. Unsur pertama ialah cadangan anda iaitu apa/siapa yang patut melakukan sesuatu. Unsur kedua ialah mengapa cadangan itu patut dilaksanakan/kesan daripada cadangan itu. Contoh: Kesimpulannya, semua pihak harus bekerjasama untuk mengelakkan keracunan makanan (unsur pertama) agar keselamatan awam terjamin. (unsur kedua).
  • Kira balik jumlah perkataan dan kalau sudah berpuas hati, tuliskan jumlah perkataan yang benar di bawah rumusan anda.
  • Ingat, di samping itu dikira 2 perkataan. (di dan ke tidak dikira) Nama khas, walau panjang mana sekalipun dikira 1 perkataan dan kata ganda juga 1 perkataan.
( sumbangan cikguliz )

Friday, October 29, 2010


Bagi rakyat, Parlimen merupakan suatu badan yang amat penting dalam sesebuah negara. Rakyat sendiri terlibat secara langsung dalam memilih ahli-ahli Parlimen/Dewan Rakyat menerusi satu pilihan raya umum. Kerajaan berparlimen di Malaysia adalah berasaskan kepada prinsip demokrasi.
Apa itu Parlimen dan Pilihan Raya?
Menurut D. Robertson (1993), secara amnya Parlimen merupakan satu perhimpunan perundingan (consultive assembly). Kebanyakan Parlimen hari ini mempunyai ahli yang dipilih dengan tugas meneliti, mengawal dan adakalanya memilih kuasa eksekutif. Parlimen ini berfungsi membuat undang-undang/akta, dan juga mengawasi dan mengawal perbelanjaan awam/kerajaan.
Pilihanraya sebagai satu kaedah untuk memilih calon bagi jawatan /kerusi tertentu. Pilihanraya boleh dijalankan menerusi berbagai-bagai cara/kaedah. Prosedur mengundi adalah rahsia, direkod dan diterbitkan seperti dalam banyak pilihan raya yang diadakan di seluruh dunia. Pilihan raya merupakan salah satu kaedah daripada berbaga-bagai cara pemilihan, dan ia menjadi kaedah yang sangat dominan dalam abad ke-20.
Dalam pilihan raya, pemilihan mestilah dilakukan secara terbuka oleh sekumpulan orang. Maka dalam satu-satu pilihan raya terdapat dua objek yang terlibat, iaitu orang yang dipilih dan kumpulan pemilihnya.
Demokrasi Berparlimen
Malaysia telah memilih pemerintahan berlandaskan demokrasi berparlimen dengan raja berpelembagaan. Perjalanan demokrasi berparlimen ini agak lambat dan membebankan kerajaan dan rakyat. Hal ini kerana kerajaan terpaksa berunding dan mempertimbangkan pendapat dari tiap-tiap lapisan masyarakat.
Pemerintahan demokrasi berparlimen merupakan kerajaan yang dipilih oleh rakyat dan untuk rakyat. Kerajaan yang berlandaskan demokrasi berparlimen akan terus kekal diterajui oleh pemimpin yang dipilih dan didukung oleh rakyat.
Latar Belakang Kewujudan Parlimen dan Parlimen di Malaysia.
Kerajaan berperwakilan/berparlimen telah diperkenalkan di Malaysia buat pertama kalinya dalam tahun 1909, apabila Majlis Persekutuan (Federal Council) ditubuhkan, iaitu bagi negeri-negeri Melayu Bersekutu (FMS).
Majlis Persekutuan ini mengalami sedikit perubahan dalam tahun 1927. Bentuk asal majlis ini dikekalkan, tetapi Raja/Sultan tidak menjadi ahli lagi dan digantikan dengan lebih ramai wakil yang dilantik dari berbagai-bagai sektor dan pegawai-pegawai pentadbir British.
Pada 1 Februari 1951 pula, satu sistem baru telah diperkenalkan dan diberi nama Sistem Ahli (Member System). Sistem Ahli ini merupakan satu mini kabinet dengan ahli-ahli yang mngetuainya bersifat sebagai seorang menteri. Ini merupakan satu langkah positif dan ia merupakan satu peralihan pentadbiran yang biasa dilakukan oleh British kepada tanah jajahannya.
Dalam tahun 1995, Perlembagaan Persekutuan Tanah Melayu 1948, telah dipinda. Pindan itu dibuat bagi membolehkan pilihan raya umum bagi memilih ahli Dewan Undangan Persekutuan untuk menambah keahlian Dewan tersebut. Ahli Dewan Undangan Persekutuan tahun 1955 terdiri dari 98 orang ahli: 52 dipilih dan 46 dilantik. Parlimen sepertimana yang kita ketahui pada hari ini wujud hasil dari pilihan raya umum yang diadakan pada 19 Ogos 1959.
Struktur dan Keanggotaan Parlimen.
Struktur Parlimen Malaysia yang wujud pada hari ini adalah seperti yang terkandung di dalam Perlembagaan Persekutuan Malaysia, iaitu dalam Bahagian 4, Perkara 44.
Keanggotaan Parlimen pula adalah seperti berikut:
Dewan Negara
Keanggotaan Dewan Negara telah ditentukan oleh Perlembagaan Persekutuan Malaysia dalam Bahagian 4, Bab 4, Perkara 45.
1. Anggota dari setiap negeri
2. Anggota dari Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur
3. Anggota dari Wilayah Persekutuan Labuan
4. Anggota ahli lain yang dilantik oleh Yang Di-Pertuan Agong

Tempoh perkhidmatan senator ialah tiga tahun, dan seorang yang tidak boleh memegang jawatan itu lebih dari dua penggal ( secara berterusan atau cara lain ). Seorang senator mesti berumur 30 tahun ke atas.
Dewan Rakyat
Keanggotaan Dewan Rakyat pula adalah ditentukan oleh Perlembagaan Persekutuan Malaysia, Bahagian 4, Bab 4, Perkara 46.
Pilihanraya Di Malaysia.
Pilihanraya di Malaysia dijalankan oleh sebuah suruhanjaya yang dilantik khas. Suruhanjaya Pilihanraya (SPR) dilantik oleh Yang Di-Pertuan Agong selepas berunding dengan Majlis Raja-Raja. Suruhanjaya ini terdiri daripada seorang Pengerusi, seorang Timbalan Pengerusi dan tiga orang ahli.

Suruhanjaya Pilihanraya pada dasarnya ditubuhkan untuk menjalankan pilihanraya yang bebas dan adil di Malaysia (free and fair election). Perlembagaan Persekutuan Malaysia menggariskan tiga fungsi penting SPR seperti berikut :
a. mempersempadankan bahagian-bahagian pilihanraya,
b. menjalankan pendaftaran pemilih, dan
c. menjalankan pilihanraya, samada pilihanraya umum atau pilihanraya kecil.

Seseorang pemilih (pengundi) yang berkelayakan boleh mengundi jika namanya telah didaftarkan dalam Daftar Pemilih.
Parlimen dan sesebuah Dewan Undangan Negeri mempunyai tempoh selama lima tahun; dan dengan demikian, melainkan jika ia dibubarkan dengan lebih awal, pilihanraya diadakan tiap-tiap lima tahun. Tiap-tiap bahagian pilihanraya memilih seorang ahli (bagi ahli Parlimen dan Dewan Undangan Negeri), dan tiap-tiap pengundi mempunyai satu undi dan dia mengundi secara undi rahsia.
Di Malaysia, sebelum proses pengundian dijalankan, kempen pilihanraya boleh diadakan. Akta Pilihanraya Malaysia juga telah menetapkan mengenai petisyen pilihanraya, iaitu satu bentuk tindakan undang-undang yang boleh diambil oleh seseorang calon, agen pilihanraya, atau pengundi dalam mana-mana pilihanraya, jika mereka tidak berpuas hati dengan keputusan pilihanraya yang telah dijalankan.
Fungsi dan Kuasa Parlimen
Antara fungsi Parlimen ialah;
a. kuasa perundingan
b. mengenakan cukai-cukai baru, tambahan atau memansuhkan mana-mana cuka; dan
c. meluluskan belanjawan negara bagi satu-satu tahun tertentu.

Prosedur Perundangan
Bagaimana undang-undang di Parlimen dibuat?
Mula-mula suatu rang undang-undang (undang-undang dalam bentuk draf dikemukakan di Parlimen. Rang undang-undang itu menjadi undang-undang apabila ia diluluskan oleh kedua-dua Dewan Parlimen dan diperkenankan oleh Yang di-Pertuan Agong. Antara kedua-dua Dewan Parlimen, Dewan Rakyat lebih berkuasa daripada Dewan Negara.
Undang-undang yang dibuat oleh Parlimen dinamakan Akta dan undang-undang yang dibuat oleh Dewan Undangan Negeri dinamakan Enakmen dan di Sarawak pula ia dipanggil Ordinan
Keistimewaan Parlimen.
Keabsahannya apa-apa perjalanan dalam mana-mana satu Dewan Parlimen atau dalam mana-mana Jawatankuasa, tidak boleh dipersalahkan dalam mana-mana mahkamah. Tidak seorang pun boleh didakwa bagi apa juga diucapkannya atau apa-apa undi yang diberi oleh ahli
Parlimen apabila mengambil bahagian dalam apa-apa perjalanan bagi mana-mana jawatankuasanya.
Satu lagi keistimewaan Parlimen ialah bahawa seseorang itu tidak boleh dibicarakan dalam mana-mana mahkamah berkaitan dengan apa juga yang diterbitkan dengan atau di bawah kuasa mana-mana satu Dewan Parlimen.
Persekutuan Malaysia merupakan sebuah negara yang mengamalkan pemerintahan melalui amalan demokrasi berparlimen. Sistem ini mendapat sokongan dan penglibatan pihak pemerintah dan rakyat jelata. Sistem Parlimen dan pilihanraya di Malaysia akan terus kekal dan bertambah mantap pada masa hadapan.
4. Yang di-Pertuan Agong
Pemilihan Yang di-Pertuan Agong
1.      Mana-mana raja daripada sembilan buah negeri beraja di Malaysia dapat dipilih sebagai Yang di-Pertuan Agong kecuali jika:
a)      Baginda seorang remaja, atau
b)      Baginda telah memberitahu Penyimpan Mohor Besar Raja-raja bahawa baginda tidak mahu dipilih, atau
c)      Majlis Raja-raja mengambil ketetapan dengan undi sulit bahawa baginda tidak sesuai untuk menjalankan tugas-tugas Yang di-Pertuan Agong disebabkan oleh kelemahan akal atau tubuhnya atau oleh sebab-sebab lain.

2.      Yang di-Pertuan Agong memegang jawatan selama lima tahun dan dibantu oleh Timbalan Yang di-Pertuan Agong.

3.      Timbalan Yang di-Pertuan Agong tidak secara automatik memegang jawatan Yang di-Pertuan Agong jika berlaku sesuatu kepada Yang di-Pertuan Agong semasa tempoh jawatan itu.

4.      Saraan Yangdi-Pertuan Agong dan Timbalan Yang di-Pertuan Agong ditanggung oleh Kumpulan Wang Persekutuan yang Disatukan.

5.      Sebarang ketetapan tentang pemilihan Yang di-Pertuan Agong tidak boleh diluluskan melainkan mendapat sokongan lima orang daripada sembilan anggota Majlis Raja-raja.

6.      Majlis Raja-raja hendaklah menawarkan jawatan Yang di-Pertuan Agong kepada raja yang layak untuk dipilih, yang negeri baginda ialah negeri pertama dalam senarai pemilihan iaitu senarai yang mengandungi negeri semua raja mengikut sususan raja-raja mengiktiraf keutamanan antara mereka sendiri pada masa itu.

7.      Apabila raja yang ditawarkan jawatan Yang di-Pertuan Agong itu menerima jawatan itu, Majlis Raja-raja hendaklah mengisytiharkan raja itu sebagai dipilih.

8.      Kemudian, Penyimpan Mohor Besar Raja-raja, selaku Setiausaha Majlis Raja-raja, hendaklah menberitahukan keputusan itu secara bertulis kepada Dewan Rakyat dan Dewan Negara.

9.      Yang di-Pertuan Agong mesti mengangkat dan menandatangani sumpah jawatan di hadapan Majlis Raja-raja dan Ketuan Hakim Negara.

10.  Gelaran penuh Yang di-Pertuan Agong ialah Duli Yang Maha Mulia Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong.

Kedudukan Yang di-Pertuan Agong
1.      Yang di-Pertuan Agong ialah:-

a)                  Ketua Negara dan merupakan raja berperlembagaan.
b)                  Ketua Agama Islam bagi Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Labuan, Wilayah Persekutuan Putrajaya, Sabah, Sarawak, Melaka, Pulau Pinang, dan negeri baginda.
c)                  Lambang kedaulatan dan perpaduan Negara.

2.      Yang di-Pertuan Agong tidak boleh didakwa atas apa-apa kasalahan dalam mana-mana mahkamah kecuali dalam Mahkamah Khas Raja-raja.

3.      Kuasa eksekutif Negara adalah dalam tangan Yang di-Pertuan Agong tetapi kuasa eksekutif dilaksanakan oleh Perdana Manteri dan Kabinet.

4.      Yang di-Pertuan Agong ialah Komponen badan perundangan persekutuan tetapi baginda tidak mengambil bahagian dalam persidangannya.

5.      Walaupun Yang di-Pertuan Agong tidak mentadbirkan Negara, baginda berhak, atas permintaan baginda, mendapat apa-apa maklumat tentang pentadbiran Negara daripada Kabinet.

Kuasa dan tugas Yang di-Pertuan Agong
1.      Dalam manjalankan tugas di bawah perlembagaan, Yang di-Pertuan Agong mestilah bertindak atas nasihat Perdana Menteri.

2.      Yang di-Pertuan Agong ialah Pemerintah Tertinggi Angkatan Tentera Persekutan.

3.      Yang di-Pertuan Agong mempunyai kuasa dan bertanggungjawab untuk melantik:

a)      Speaker Dewan Rakyat dan Speaker Dewan Negara yang dipilih oleh dewan masing-masing.
b)      Setiausaha Dewan Rakyat, Setiausaha Dewan Negara, dan Ketua Pentadbir Perlimen atas nasihat Perdana Menteri.
c)      Ketua Polis Negara, Peguam Negara, dan Ketuan Setiausaha Negara atas nasihat Perdana Menteri.
d)     Ketua audit negara atas nasihat Perdana Menteri selepas berunding dengan Majlis Raja-raja.
e)      Ketua Hakim Negara dan hakim-hakim bagi mahkamah Persekutan, Mahkamah Rayuan, dan Mahkamah Tinggi atas nasihat Perdana Menteri dan selepas berunding dengan Majlis Raja-raja.
f)       Pengerusi dan anggota-anggota suruhanjaya atas nasihat Perdana Menteri selepas berunding dengan Majlis Raja-raja.

4.      Yang di-Pertuan Agong mempunyai kuasa pengampunan dan boleh mengampuni orang-orang yang disabitkan dengan kesalahan-kesalahan yang dibicarakan di:
a)      Mahkamah Syariah(bagi negeri baginda, negeri-negeri yang tidak beraja, dan Wilayah-wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Labuan, dan Putrajaya)
b)      Mahkamah Tentera
c)      Mahkamah awam di Wilayah-wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Labuan, dan Putrajaya.

5.      Yang di-Pertuan Agong memperkanankan rang undang-undang/pindaan undang-undang/pindaan Perlembagaan yang telah diluluskan oleh Perliman dalam masa 30 hari supaya undang-undang berkenaan dapat berkuat kusa apabila diwartakan menjadi warta kerajaan.

6.      Yang di-Pertuan Agong memberikan Titah Ucapan Diraja dalam parliman untuk marasmikan persidangan pertama setiap penggal persidangan Parlimen.

7.      Yang di-Pertuan Agong telah mengisytiharkan Undang-undang Darurat atas nasihat Perdana Menteri.

8.      Yang di-Pertuan Agong menganugerahkan gelaran dan pinget kebesaran.

9.      Yang di-Pertuan Agong bertanggungjawab untuk memelihara hak-hak istimewa orang-orang melayu dan bumiputera di Sabah dan Sarawak.

10.  Yang di-Pertuan Agong bertanggungjawab untuk memelihara kepentingan-kepentingan sah kaum-kaum lain di Malaysia.

11.  Yang di-Pertuan Agong mempengerusikan mesyuarat Lembaga Pengampunan dan mesti mengikut nasihat Lembaga Pengampunan.

12.  Perkara 66(4A): Sesuatu rang undang-undang dianggap telah diperkenankan secara automatik selepas 30 hari rang undang-undang itu dipersembahkan kepada Yang di-Pertuan Agong.

Kuasa budi bicara Yang di-Pertuan Agong
1.      Yang di-Pertuan Agong:-
a)      Melantik Perdana Menteri
b)      Boleh tidak menyetujui atau menolak permintaan Perdana Menteri untuk membubarkan Parlimen.
c)      Boleh membuat permintaan supaya suatu mesyuarat Majlis Raja-raja diadakan semata-mata untuk membincangkan hal-hal berkaitan dengan keistimewaan, kedudukan, kemuliaan, atau kebesaran raja-raja dan mengambil sebarang tindakan dalam mesyuarat itu.

2.      Kuasa budi bicara Yang di-Pertuan Agong termaktub dalam Perkara 40 Fasal (2) Perlembagaan Persekutuan.

Sekatan Terhadap Kuasa Yang di-Pertuan Agong
1.      Yang di-Pertuan Agong tidak boleh menjalankan tugas-tugasnya sebagai raja di negeri baginda kecuali:
a)      sebagai Ketua Agama Islam
b)      meminda Perlembagaan Negeri
c)      melantik seorang Pemangku Raja

2.      Yang di-Pertuan Agong tidak boleh:-
a)      memgang apa-apa jawatan lain yang mempunyai apa-apa saraan.
b)      mengambil bahagian secara aktif dalam apa-apa syarikat perniagaan dan parti-politik.
c)      menerima apa-apa jua jenis pendapatan yang kena dibayar kepada baginda sbagai raja negeri baginda.
d)      tanpa persetujuan Majlis raja-raja meninggalkan Persekutuan selama lebih daripada 15 hari kecuali atau sebab lawatan rasmi.
e)      mengampuni diri sendiri, permaisuri baginda, dan anak-anak baginda.

3.      Yang di-Pertuan Agong boleh didakwa di Mahkamah Khas Raja-raja dalam kes sivil dan kes jenayah atas sifat peribadi baginda.

4.      Kuasa Pengampunan bagi:-
a)      Yang di-Pertuan Agong, handaklah dijalankan oleh Majlis Raja-raja.
b)      Permaisuri dan anak-anak Yang di-Pertuan Agong hendaklah dijalankan oleh raja sesebuah negeri yang dinamakan oleh Majlis Raja-raja

Peletakan Jawatan Yang di-Pertuan Agong
1.      Yang di-Pertuan Agong:-
a)      boleh meletakkan jawatan pada bila-bila masa.
b)      hendaklah mengutuskan surat peletakan jawatan yang ditandatangani oleh baginda kepada Majlis Raja-raja.
c)      Mesti berhenti daripada memegang jawatannya apabila baginda berhenti daripada menjadi raja negeri baginda.
d)     Hendaklah berhenti daripada menjalankan tugas-tugas Yang di-Pertuan Agong jika baginda dituduhkan atas sesuatu kesalahan dalam Mahkamah Khas Raja-raja.

2.      Peletakan jawatan Yang di-Pertuan Agong tidak perlu diberitahukan kepada Parlimen kerana tidak perlu mendapat persetujuan Parlimen.

Pemecatan Yang di-Pertuan Agong
1.      Yang di-Pertuan Agong hanya boleh dipecat daripada jawatan baginda oleh Majlis Raja-raja.

2.      Majlis Raja-raja boleh memecat Yang di-Pertuan Agong pada bila-bila masa dan atas apa-apa jua sebab.

3.      Sesuatu ketetapan untuk memecat Yang di-Pertuan Agong tidak boleh diluluskan melainkan mendapat sokongan lima orang daripada sembilan orang Majlis Raja-raja.

4.      Dalam hal pemecatan Yang di-Pertuan Agong, anggota –anggota Majlis Raja-raja boleh bertindak menurut budi bicara masing-masing.

Senarai Yang di-Pertuan Agong Malaysia
1.      Timbalan Yang di-Pertuan Agong tidak secara automatik memegang jawatan Yang di-Pertuan Agong setelah Yang di-Pertuan Agong mangkat.

2.      Pemilihan Yang di-Pertuan Agong yang baru akan dibuat oleh Majlis Raja-raja.

3.      Tempoh perkhidmatan Yang di-Pertuan Agong yang ke-13 akan tamat pada 12 Disember 2011.

4.      Negeri yang pertama dalam senarai pemilihan bagi jawatan Yang di-Pertuan Agong yang ke-14 ialah Kedah.

Yang di-Pertuan Agong
Tempoh Jawatan
1. Yang di-Pertuan Besar Negeri Sembilan
3 Ogos 1957 – 1 April 1960*
2. Sultan Selangor
14 April 1960 – 1 September 1960*
3. Raja Perlis
21 September 1960 – 20 September 1965*
4. Sultan Terengganu
21 September 1965 – 20 September 1970
5. Sultan Kedah
21 September 1970 – 20 September 1975
6. Sultan Kelantan
21 September 1975 – 29 Mac 1979*
7. Sultan Pahang
26 April 1979 – 25 April 1984
8. Sultan Johor
26 April 1984 – 25 April 1989
9. Sultan Perak
26 April 1989 – 25 April 1994
10.Yang di-Pertuan Besar Negeri Sembilan
26 April 1994 – 25 April 1999
11.Sultan Selangor
26 April 1999 – 21 November 2001*
12.Raja Perlis
13 Disember 2001 – 12 Disember 2006
13.Sultan Terengganu
13 Disember 2006 - kini

* Mangkat dalam tempoh perkhidmatan

5. Majlis Raja-raja
1.      Majlis Raja-raja ditubuhkan pada 1948 seiring dengan pembentukan Persekutuan Tanah Melayu.

2.      Bidang kuasa Majlis Raja-raja termaktub dalam Perkara 38 Perlembagaan Persekutuan.

3.      Majlis Raja-raja:-
a)      suatu pihak berkuasa Persekutuan.
b)      badan tanpa kuasa perundangan
c)      badan penting dalam membentuk hubungan repat antara Kerajaan Persekutuan dengan Kerajaan Negeri.

Keanggotaan Majlis Raja-raja
1.      Majlis Raja-raja terdiri daripada sembilan orang raja Melayu dan empat orang Yang di-Pertua Negeri.

2.      Pemangku raja bagi negeri Yang di-Pertuan Agong akan mewakili negeri baginda dalam Majlis Raja-raja.

3.      Yang di-Pertuan Agong hanya menganggotai Majlis Raja-raja
a)      pada hari kedua masyuarat Majlis Raja-raja
b)      sewaktu mempertimbangkan hal-hal agama Islam, amalan adat istiadat, dan hal-hal berkaitan dengan keistimewaan, kedudukan, kemuliaan, atau kebesaran raja-raja.

4.      Tempat raja atau Yang di-Pertua Negeri dalam Majlis Raja-raja boleh diwakili oleh orang lain jika terdapat peruntukan dalam perlembagaan negeri itu.

Mesyuarat Majlis Raja-raja
1.      Permintaan untuk mengadakan mesyuarat Majlis Raja-raja boleh dibuat oleh:-
a)      Yang di-Pertuan Agong
b)      tidak kurang daripada tiga orang anggota Majlis Raja-raja

2.      Majlis Raja-raja biasanya mengadakan mesyuarat tiga kali setahun.

3.      Setiap mesyuarat itu berlangsung selama dua hari setiap kali.

4.      Sebelum mesyuarat itu, Menteri-menteri Besar dan Ketua-ketua Menteri bertemu untuk menyediakan kertas kerja yang dibincangkan dalam Mesyuarat Majlis Raja-raja.

5.      Menteri-menteri Besar dan Ketua-ketua Menteri akan mengiringi raja atau Yang di-Pertua Negeri masing-masing untuk menghadiri mesyuarat Majlis Raja-raja pada kedua-dua hari.

6.      Yang di-Pertuan Agong menghadiri mesyuarat Majlis Raja-raja pada hari kedua dengan diiringi Perdana Menteri.

7.      Pengerusi Majlis Raja-raja dipegang oleh raja setiap negeri secara bergilir-gilir.

8.      Apabila Majlis Raja-raja menimbangkan perkara-perkara tentang dasar Negara, Yang di-Pertuan Agong hendaklah disertai Perdana Menteri, raja-raja disertai Menteri-menteri Besar, dan Yang di-Pertua Negeri disertai Ketua-ketua Menteri.

9.      Mesyuarat Majlis Raja-raja hanya dihadiri oleh sembilan orang raja jika mesyuarat itu adalah untuk menimbangkan:
a)      pelantikan dan pemecatan Yang di-Pertuan Agong
b)      pemilihan Timbalan Yang di-Pertuan Agong
c)      keistimewaan, kedudukan, kemuliaan, dan kebesaran raja-raja.
d)     Perbuatan, amalan, atau upacara agama Islam

Tugas dan Kuasa  Majlis Raja-raja
1.      Majlis Raja-raja:-
a)       mempertimbangkan soal-soal dasar Negara.
b)      menyetujui atau tidak menyetujui perbuatan, amalan, atau upacara agama Islam meliputi seluruh Persekutuan.
c)      Melantik anggota-anggota Mahkamah Khas Raja-raja
d)     Berkuasa untuk mengampunkan, menggantungkan, atau meringankan hukuman yang dikenakan terhadap Yang di-Pertuan Agong atau raja oleh Mahkamah Khas Raja-raja
e)      Melantik wakil Majlis Raja-raja ke Majlis Angkatan Tentera
f)       memilih atau memecat Yang di-Pertuan Agong dan Timbalan Yang di-Pertuan Agong.

2.      Majlis Raja-raja menyetujui atau tidak menyetujui sebarang undang-undang atau pindaan terhadap undang-undang atau Perlembagaan tentang:-
a)      perbuatan dan amalan yang berkaitan dengan agama Islam; meliputi seluruh Persekutuan
b)      keistimewaan, kedudukan, kemuliaan, atau kebesaran raja-raja
c)      pengubahan sempadan negeri0negeri di Semenanjung Malaysia
d)     kedudukan istimewa orang Melayu dan bumiputera di Sabah dan Sarawak
e)      kepentingan-kepentingan sah kaum-kaum yang lain
f)       bahasa kebangsaan
g)      kewarganegaraan (bukan peruntukan tambahan)
h)      keistimewaan Parlimen

3.      Majlis Raja-raja memberikan nasihat tentang pelantikan:-
a)      Ketua Hakim Negara
b)      Hakim-hakim Mahkamah Persekutuan, Mahkamah Rayuan, dan Mahkamah Tinggi
c)      Ketua Audit Negra
d)     Pengerusi dan anggota-anggota suruhanjaya

4.      Majlis Raja-raja penting dalam penyelarasan soal agama Islam di seluruh Malaysia. Hal ini kerana undang-undang digubal oleh Dewan Undangan Negeri dan dikuatkuasakan oleh Kerajaan Negeri. Oleh itu, akan timbullah ketidakseragaman sekiranya tiada penyelarasan dilakukan.

5.      Perkara 38(4): sebarang undang-undang yang menyentuh keistimewaan, kedudukan, kemuliaan, atau kebesaran raja-raja secara langsung tidak boleh diluluskan tanpa persetujuan Majlis Raja-raja
Kuasa Budi Bicara Majlis Raja-raja
1.      Menurut Perkara 38(6), anggota-anggota Majlis Raja-raja boleh bertindak menurut budi bicara mereka dalam sebarang urusan yang berhubung dengan tugas-tugas yang berikut:-
a)      Memilih atau memecat Yang di-Pertuan Agong
b)      Memilih Timbalan Yang di-Pertuan Agong
c)      Memberikan nasihat tentang pelantikan jawatan-jawatan penting
d)     Menyetujui atau tidak menyetujui sebarang undang-undang yang mengubah sempadan sesebuah negeri
e)      Menyetujui atau tidak menyetujui sebarang undang-undang yang menyentuh keistimewaan, kedudukan, kemuliaaan, atau kebesaranraja-raja
f)       Menyetujui atau tidak menyetujui perbuatan, amalan, atau upacara agama Islam meliputi seluruh Persekutuan
g)      Melantik anggota-anggota Mahkamah Khas Raja-raja
h)      Mengampunkan, menggantungkan, atau meringankan hukuman yang dikenakan terhadap Yang di-Pertuan Agong dan raja oleh Mahkamah Khas Raja-raja

2.      Sebelum membuat kuputusannya dalam hal pengampunan, Majlis Raja-raja hendaklan menimbangkan pendapat bertulis yang mungkin diberikan oleh Peguam Negara.

Penyimpan Mohor Besar Raja-raja
1.      Penyimpan Mohor Besar Raja-raja ialah orang yang dilantik oleh Majlis Raja-raja untuk menyimpan dan menjaga Mohor Besar Raja-raja.

2.      Beliau juga vertindak sebagai setiausaha Majlis Raja-raja.

3.      Orang yang layak memegang jawatan ini ialah pegawai kana yang masih berkhidmat dengan kerajaan atau yang telah bersara.

4.      Beliau memgang jawatannya selama yang diperkenankan oleh Majlis Raja-raja.

5.      Tugas-tugas Penyimpan Mohor Besar Raja-raja adalah seperti yang berikut:-
a)      Menerima dan mengedarkan kertas-kertas kerja yang hendak dikemukakan dalam mesyuarat Majlis Raja-raja
b)      Bertanggungjawab untuk memanggil mesyuarat dari semasa ke semasa atas arahan Yang di-Pertuan Agong atau Majlis Raja-raja
c)      Menghadiri mesyuarat Majlis Raja-raja dan menyimpan minit-minit mesyuarat
d)     Mengesahkan semua keputusan Majlis Raja-raja
e)      Memaklumkan keputusan pemilihan Yang di-Pertuan Agong kepada Dewan Rakyat dan Dewan Negara
f)       Mengumumkan keputusan Majlis Raja-raja, tarikh berpuasa, tarikh Hari Raya Aidilfitri, dan tarikh Hari Raya Aidiladha